KALTIM WEEKLY | UTAMA | POLITIK | HUKUM | MASKULIN | LEADER | WAWANCARA | LAPORAN KHUSUS

LEADER

Sabtu, 30 Juli 2016 11:05
Cerita Faridah, Ketika Tamatan SD Menjadi Guru
GURU TERMUDA: Faridah bersama murid-muridnya menyusuri jalan setapak menuju sekolah gubuk di Dusun Sambas, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

PROKAL.CO, Faridah seperti kuntum bunga yang segera mekar. Faridah gadis yang cerdas. Usianya baru 15 tahun. Seorang guru honor tamatan sekolah dasar (SD) di Dusun Sambas, desa terpencil di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

FARIDAH bersiap berangkat menuju SD yang berada di ujung desa. Beberapa buku mata pelajaran telah disiapkan. Berangkat lah dia. Di tengah perjalanan, ia bertemu murid-muridnya persimpangan jalan setapak.

Faridah masih sangat belia untuk menjadi guru di sekolah gubuk itu. Hanya bermodal ijazah SD, gadis kelahiran 2 Juni  ini memiliki peran cukup besar dalam dunia pendidikan di Dusun Sambas, Desa Pematang, Kecamatan Kapuas Kuala, Kabupaten Kapuas, Kalteng. Mungkin dia merupakan guru termuda di Kalteng, bahkan di Indonesia.

Dengan bekal yang terbilang pas-pasan, remaja putri itu memberanikan diri memenuhi tawaran kakeknya, Kai (kakek) Atah untuk membantu mengajar. Faridah baru lulus pada 2015 dari di SDN 1 Lupak Dalam, Kecamatan Kapuas Kuala.

Setiap pagi, Faridah dan anak-anak di dusun tersebut menyusuri jalan setapak di tepi sungai menuju sekolah gubuk di ujung Dusun Sambas. Ia mengajar kelas 3 dengan beberapa mata pelajaran. Yakni, Pendidikan Agama Islam, PPKN, IPA, IPS dan Matematika. Awal mengajar, terbesit rasa takut di benak remaja itu untuk menularkan ilmu kepada anak-anak di dusun kecil yang tidak jauh dari pesisir laut Jawa tersebut.

“Takut tidak bisa menjawab kalau murid bertanya. Tetapi saya terus belajar,” ucap Faridah sela-sela jam istirahat belajar.
Kendati menjadi sosok guru, tidak semua mata pelajaran dia kuasai dengan baik. Pelajaran paling sulit yang dia sampaikan yaitu PPKN. “Sulitnya cara menjelaskan pelajaran itu,” ucap dia.

Tetapi dia terus berupaya menutupi apa yang menjadi kekurangannya itu. Ilmu yang dia peroleh di bangku SD betul-betul dia tularkan kepada anak-anak SD di dusun tersebut. Metode belajar juga tidak jauh berbeda dengan guru-guru lain. Penjelasan materi dan memberikan soal latihan dari buku panduan yang dia pegang.

“Pelajaran yang sulit diterima anak-anak yaitu pelajaran matematika,” ungkap remaja yang bercita-cita menjadi guru tersebut.
Kendati dengan latar belakang pendidikan yang terbilang sangat pas-pasan, dia mengaku cukup senang bisa menjadi guru di dusunnya itu. “Senang bisa berbagi ilmu,” ucapnya.

Putri pertama pasangan suami istri, Anda-Surti saat menempuh pendidikan di SDN 1 Lupak Dalam juga selalu mendapatkan peringkat semasa sekolah. “Sering mendapat peringkat dua dan tiga,” ungkap Farida.

Dia mengaku ada suka dan duka menjadi guru bagi anak-anak di dusun yang terisolasi itu. “Sukanya itu tadi, bisa berbagi ilmu. Dukanya anak-anak kadang nakal. Jadi harus sabar. Nakalnya sering ribut,” katanya.

Gaji yang dia terima sebagai guru di sekolah itu juga tidak terlalu banyak. Yakni Rp 200 ribu per bulan. Uang itu selain dia gunakan untuk keperluannya, sebagian juga dia bagi dengan orangtuanya.

Faridah mengaku, sebenarnya dia juga sangat berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan di tingkat SLTP. Namun kondisi perekonomian orang tuanya yang tidak memungkinkan membuat dia harus putus sekolah.

Sekolah gubuk yang menginduk di SDN-2 Cemara Labat itu memang terbilang sangat memprihatinkan. Baik dari segi bangunan sekolah maupun infrastruktur penunjang lainnya. Ukuran bangunan sekolah tidak lebih dari 3x 6 meter. Tiangnya dari kayu galam sebesar lengan orang dewasa. Atapnya dari daun rumbia. Beberapa tahun berdiri, sekolah itu hanya diasuh Kakek Atah. Sekolah itu memiliki 35 murid. Mereka masih duduk di kelas 1 sampai dengan kelas 5.

Kakek Atah pun hanya tamatan SD. Namun saat ini selain dibantu cucunya (Faridah) Kakek Atah juga dibantu Romlah untuk mengajar di sekolah yang didirikan pada 1 November 2008 lalu itu.

Di sekolah itu, hanya Romlah yang mengenyam pendidikan tertinggi. Romlah sendiri saat ini juga masih menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kuala Kapuas.

Menurut Kakek Atah, kehadiran Faridah untuk mengajar di sekolah itu cukup membantu dirinya untuk mengajar. “Dulu saya sendiri. Sekarang saya sangat terbantu dengan kehadiran Faridah dan Ibu Romlah. Walaupun tamatan SD, Faridah bisa menyampaikan pelajaran kepada anak-anak,” kata Kakek Atah.

Harapan masyarakat dan anak-anak Dusun Sambas untuk memiliki sekolah yang layak tampaknya segera terwujud. Di mana, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kapuas telah mengalokasikan anggaran Rp 325 juta untuk membangun gedung sekolah dengan dua kelas.
Namun untuk pemenuhan guru yang memiliki kualifikasi pendidikan yang memadai, Disdik Kapuas tampaknya belum bisa berbuat banyak.

“Kapuas masih kekurangan SDM. Upaya yang kami lakukan nanti mereka yang belum memenuhi kualifikasi akademik itu akan didiklatkan," kata Sekretaris Disdik Kabupaten Kapuas, Ilham.

Namun dia mengaku tidak ada guru yang hanya tamatan atau berijazah SD. “Kecuali guru honorer. Kalau di wilayah itu memang tidak ada guru yang memenuhi kualifikasi mau bagaimana lagi? Tapi nanti akan diadakan pendidikan dan diberi pembekalan, termasuk untuk guru PAUD. Karena guru PAUD banyak yang hanya tamatan SMA," tandasnya.

Dusun Sambas yang terletak di antara Desa Sungai Teras dan Desa Pemtang itu memang benar-benar terisolasi. Untuk sampai ke dusun tersebut sebenarnya bisa ditempuh melalui jalur darat. Namun, ketika Kalteng Pos hendak menuju dusun tersebut,tidak bisa dilanjutkan dari jalur darat, karena mengalami kerusakan sangat serius.  

Makanya untuk sampai ke Dusun Sambas, terlebih dahulu melalui perjalanan sekitar 70 km dari Kota Kuala Kapuas ke Desa Sungai Teras. Kendaraan hanya bisa sampai ke Desa Sungai Teras, sejumlah masyarakat sekitar menyarankan agar tidak menempuh perjalanan darat menggunakan mobil, karena kerusakkan jalan cukup parah.  

HARTOYO, KUALA KAPUAS




BACA JUGA

Sabtu, 30 Juli 2016 11:05

Cerita Faridah, Ketika Tamatan SD Menjadi Guru

Faridah seperti kuntum bunga yang segera mekar. Faridah gadis yang cerdas. Usianya baru 15 tahun. Seorang…

Sabtu, 30 Juli 2016 11:02

Adangan Menuju Gubuk Sekolah

CERITA anak-anak Dusun Sambas menantang maut sepulang sekolah menyimpan trauma di benak anak-anak dan…

Sabtu, 09 Juli 2016 19:45

Sayap Dakwah Ahmad Rosyidi

Dua kali Ramadan telah dijalani Ahmad Rosyidi sebagai anggota DPRD Kaltim. Namun semangatnya untuk terus…

Sabtu, 02 Juli 2016 19:35

Ibu Zaeni dan Serma Durman

Oleh: Luhut Binsar PandjaitanMenkopolhukamBEBERAPA pekan lalu, razia terhadap warung Ibu Zaeni menjadi…

Sabtu, 02 Juli 2016 19:34

Jawaban Simpel Pembatalan Perda

JAGAT hukum Indonesia dikisruhkan lagi oleh berita pembatalan atas tidak kurang dari 3.143 peraturan…

Senin, 27 Juni 2016 09:32

15 Tahun Gran Senyiur

DI pengujung jabatan Tjutjup Suparna sebagai Wali Kota Balikpapan, pada suatu waktu kepala daerah berlatar…

Senin, 27 Juni 2016 09:31

Menyelami Kemauan Tenant

ARIES ADRIANTO termasuk tipikal pekerja yang cekatan. Ia juga seorang pekerja yang tak betah duduk di…

Senin, 27 Juni 2016 09:30

Pelajaran dari Petani Semangka

JEMARI tangannya menekan kalkulator pada smartphone-nya. Penjelasan hitung-hitungan meluncur dari mulutnya.…

Senin, 13 Juni 2016 10:12

Pesan Khusus dari Petani Jambu

MANTAN Gubernur Kaltim Suwarna Abdul Fatah tak lagi berdomisi di Kaltim. Namun, gubernur Kaltim dua…

Senin, 13 Juni 2016 10:08

Investasi Politik Anak Muda

 KEBESARAN hati diperlihatkan Sirajudin. Pendamping Heru Bambang pada pilwali Balikpapan 2015 itu…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .