KALTIM WEEKLY | UTAMA | POLITIK | HUKUM | MASKULIN | LEADER | WAWANCARA | LAPORAN KHUSUS

UTAMA

Senin, 25 Juli 2016 10:56
Mati Konyol Penumbal Badan

PROKAL.CO, Lintong Tampubolon disebut-sebut sebagai saksi kunci dari perkara rasuah hibah yang menyeret nama Sudarno. Pria berkulit gelap ini pun membeber seluruh borok yang dipendamnya selama ini.

Diwawancara Kaltim Weekly sebelum diantar kembali ke Rutan klas IIA Sempaja, ia mengaku muasal dari rasuah hibah ini ialah permintaan Emir Moeis – Ketua DPD PDI-P Kaltim saat itu kepada Darno - sapaan karib mantan anggota DPRD Kaltim. Permintaannya tak lain untuk membangun sekertariat partai banteng moncong putih tersebut di kawasan PM Noor, Samarinda Utara. “Dari permintaan itu, Sudarno dijanjikan menjadi ketua

DPD menggantikan dia (Emir Moeis). Kalau saya dikuliahkan ke Amerika Serikat,” akunya.
Baik Darno maupun dirinya memutar otak agar dapat meraih imingan janji tersebut. Akal pun muncul dari Lintong agar bermain lewat hibah yang digelontorkan pemerintah. “Dia tanya saya ada ide tidak, saya usul lewat hibah. Sepakat, dia konvensi pakai lobi lewat dewan,” terang mantan staf Sudarno tersebut.

Target fulus ditetapkan, meraup sekitar Rp 2 miliar dari main-main hibah itu. Tugas selanjutnya, membentuk organisasi yang disesuaikan dengan kriteria penerima hibah sesuai aturan.

Urusan ini, Lintong yang bekerja dengan bantuan dua pesakitan di perkara yang tengah bergulir di Pengadilan Tipikor saat ini. Sintong Sihite dan Adi Setiawan. Alhasil, terbentuklah 2 organisasi yakni FPPM dan FPR-KT di medio 2010 silam. Sisanya, memaksimalkan lembaga yang telah ada semisal LPP PDIP dan PAUD Aini-KB milik Nurul Huda. Sementara Darno, menyiasati lewat peran mengatur anggaran di DPRD Kaltim.

“Masing-masing lembaga ditarget Rp 500 juta biar pas dapatnya,” akunya lebih lanjut.
Otak-atik anggaran hibah lancar, Darno pun menitahkannya sebagai ujung tombak memproses pengajuan hibah di September 2011. Untuk organisasi yang baru dibentuk, Darno yang menyiasati agar turut menerima. Padahal, jika mengacu Permendagri 32/2011 lembaga yang berhak menerima hibah ialah lembaga yang telah aktif seminimal selama 2 tahun. Soal bagaimana proses dua organisasi seumur jagung ini menerima hibah Lintong tak tahu menahu.

Dengan vonis yang diterima selama 11 tahun dari perkara hibah LPP PDI-P dan PAUD Aini-KB yang bergulir 2013-2014 lalu, dirinya bertumbal badan melindungi peran Sudarno dalam perkara itu. Alih-alih dibantu, Sudarno justru menghilang. “Sudah dua tahun saya didalam (Rutan). Sedikitpun gak pernah dijenguk. Komunikasi ke keluarga saya saja enggak. Gembleng itu orang. Saya gak mau mati konyol kalau gini ceritanya,” ketusnya.

“Bahkan saat dikonfrontir di Polres, dia cuma bilang saya ini staf biasa saja,” imbuhnya.
Dari perkara hibah Rp 400 juta di PAUD Aini-KB saja tiga orang tervonis selama 4 tahun pidana penjara. ketiganya, Lintong Tampubolon, Adi Setiawan beserta istrinya, Nurul Huda. Sementara di LPP PDIP Lintong menjadi pesakitan seorang diri di rasuah hibah senilai Rp 800 juta dengan vonis 5 tahun pidana penjara.

Dirinya pun mengaku miliki bukti jika aliran hibah itu bermuara ke Sudarno. Bahkan, bukti tersebut sempat ditunjukkannya ke penyidik Polresta Samarinda yang mengulik rasuah hibah itu. “Ada, sudah sempat ditunjukkan ke Penyidik waktu diperiksa. Namun, dia (Sudarno) berkilah,” katanya.

Fulus hibah yang dipangkas di setiap lembaga itu Lintong tak tahu persis kemana mengalir. Setelah dana terkumpul, langsung disetor ke Sudarno. “Saya gak tau kalau itu. Sudah dipakai untuk membangun atau belum. Yang pasti uang itu sudah saya serahkan semua ke dia,” pungkasnya.

Bukti Dulu Baru Percaya
Cuapan Lintong akan hibah yang mengalir ke partai moncong putih ditanggapi dingin ketua DPD PDIP Kaltim, Dody Rondonuwu. Menurut Wakil Ketua DPRD Kaltim tersebut koaran Lintong tak begitu saja bisa dipercaya jika tanpa bukti konkret. “Sekarang Sekretariat DPD di PM Noor dimananya? Sampai sekarang masih di Jalan Kartini kok,” ucapnya.

Soal fulus hibah yang mengucur ke Sudarno itu pun dirinya mengaku tak tahu menahu. “Saya tak tahu kalau itu,” katanya singkat menjawab pertanyaan Kaltim Weekly.

Menurut Dody, semenjak memimpin banteng moncong putih Kaltim di medio 2015 lalu Sudarno tak lagi masuk dalam struktur kepengurusan partai. Komunikasi pun tak terbangun lagi semenjak Sudarno tak masuk kader yang diusulkan untuk berpartisipasi dalam pileg 2014 lalu. “Tapi tidak juga ada surat pengunduran diri dan sebagainya. Jadi, masih kader partai,” lanjutnya.

“Kalau saat 2014 lalu, ketuanya masih Pak Sofyan Alex ya,” imbuhnya.

Sementara itu, Dian Anggraeni, penuntut umum yang menyidangkan perkara rasuah ini di Pengadilan Tipikor Samarinda menerangkan nama Sudarno masuk sebagai salah satu saksi yang diperiksa penyidik tipikor kepolisian Samarinda. “Tapi untuk minggu depan belum dia yang dipanggil. Mungkin dua pekan lagi baru dijadwalkan,” terangnya.

Sementara Sudarno sendiri tak dapat dikonfirmasi hingga saat ini. Kontak seluler yang didapat awak media ini sudah tak aktif lagi. Bahkan Sudarno Center di jalan Delima sudah tak lagi di sana. Bangunan itu pun sekarang sudah beralih fungsi menjadi rumah kontrakan.
ROBAYU



BACA JUGA

Sabtu, 12 September 2015 23:31

Hakim Nawawi Pamolango, Selalu Ada Joke di Persidangan

<p>KEKAKUAN karena terikat aturan kerap menjadi pemandangan dalam setiap persidangan. Namun, suasana…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .