KALTIM WEEKLY | UTAMA | POLITIK | HUKUM | MASKULIN | LEADER | WAWANCARA | LAPORAN KHUSUS
Senin, 25 Juli 2016 10:43
Pulang Kampung dan Tak Kembali
-

PROKAL.CO, Ratusan perantau kehabisan tiket dan terpaksa menginap di Pelabuhan Semayang.  Sebagian besar dari mereka adalah pekerja perkebunan kelapa sawit.


TERMINAL penumpang Pelabuhan Semayang disesaki manusia selama beberapa hari pada pekan lalu. Nyaris tak ada ruang untuk melangkah di dalam kawasan terbuka itu. Hampir setiap jengkal "dikuasai" oleh mereka. Barang bawaan berjejal dan bertumpuk menggunung. Menunggu untuk diangkut meninggalkan Pulau Borneo. Mereka adalah calon penumpang tujuan Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kapal Motor (KM)

Bukit Siguntang akan mengantarkan mereka ke kampong halaman. Petrus Maola, 44 tahun, sudah menginap di Pelabuhan sejak tanggal 11 Juli. Dia berangkat dari Berau pada 10 Juli menuju Samarinda. Di sana dia berencana membeli tiket untuk pulang ke kampung halamannya, Kampung Boawae, Kabupaten Nagekeo, NTT. Namun upayanya  nihil.

Tiket di ibu kota Kaltim itu habis. Tak putus asa, pria berkumis tipis itu pun berpindah ke Balikpapan. Ekspektasinya sama, mencari tiket pulang kampung. Dua tempat dia datangi. Terminal Batu Ampar, lalu Pelabuhan Semayang. Lagi-lagi nihil. Semua tiket tujuan Maumere sudah ludes terjual. Harapan untuk mendapatkan tiket nyaris sirna. Sampai ada oknum calo menawarkan harga tiket tujuan kampungnya dengan harga Rp 800 ribu.

Padahal biasanya tiket kapal tujuan Maumere hanya Rp 300 ribu lebih. Pria berperawakan tinggi besar pun tidak ingin terbujuk nafsunya. Membeli tiket dari calo dengan harga tinggi. Dia memilih menginap di Pelabuhan Semayang sampai mendapatkan tiket dengan harga yang wajar. Maklum, buruh perkebunan kelapa sawit itu hanya membawa uang saku Rp 3 juta. Itu pun sudah dipotong uang transportasi dari Berau menuju Balikpapan, dengan transit di Samarinda sebesar Rp 400 ribu. Petrus harus hemat sebelum sampai tujuan.

Kesabarannya pun berubah manis. Pada 12 Juli, dia mendapatkan tiket seharga Rp 370 ribu. Tapi waktu keberangkatannya pada 17 Juli. Petrus pun harus bersabar menginap di ruang terbuka terminal penumpang Pelabuhan Semayang sampai kapal datang.

Kepulangan Petrus tahun ini sangat dinanti. Terlebih lagi oleh dua anaknya. Karena si sulung hendak mendaftar ke SMP, dan si bungsu yang masih SD pun sangat merindukan ayahnya. "Ini pertama kali saya pulang setelah merantau ke Kalimantan," ucapnya dengan ekspresi sedikit sedih.

Petrus pun bercerita mengenai kisahnya sebagai perantauan. Dia merantau ke Kalimantan pada 2014. Dia lupa kapan pastinya. Namun saat itu, ayah dua anak itu diajak merantau oleh kawannya yang lebih dulu merantau. Tawaran bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit membuatnya tergiur. Apalagi penghasilannya sebagai petani di kampungnya tidak cukup untuk membiayai kehidupan keluarga. Panen yang tak menentu menjadi penyebabnya.

Sehingga merantau menjadi satu-satunya pilihan agar dapurnya dapat mengebul. Bersama lima belas orang lainnya dari kampung yang sama, Petrus bertolak ke Kaltim  menggunakan kapal laut.

Tak ada yang berbeda dirasakan Petrus kala menginjakkan kaki di Kalimantan. Pelabuhan Semayang menjadi saksi bisu, dirinya pertama kali merantau meninggalkan kampung kelahirannya. Dia pun tak ingin lama-lama berada di kota ini. Setelah tiba, Petrus pun bergegas ke ibu kota Kaltim menyambut tawaran teman kampungnya yang terlebih dahulu merantau ke Berau.

Tiga hari hidup di Samarinda, dia lalu berangkat ke Berau untuk segera bekerja di perkebunan kelapa sawit di sana. PT Equalindo Makmur Alam Sejahtera menjadi pilihannya. Pengalamannya bertani di kampung cukup membantunya bekerja di perusahaan itu. Sehingga tak perlu waktu lama baginya untuk belajar.

Petrus bekerja di bagian pemanenan kelapa sawit. Dia bekerja dua shift sehari. Pukul 08.00-12.00 Wita dan Pukul 14.00-17.00 Wita. Sekali shift dia mampu memanen 260 tandan. Itu pun tergantung lokasi pemanennya. Jika curam dan terletak dekat dengan jurang, dia tidak mampu memanen dengan jumlah sebanyak itu. Bahkan kurang dari itu. Penghasilan yang didapat dirasa cukup lumayan baginya. Rp 3 juta bisa dia bawa pulang ke mess, tempat tinggalnya selama bekerja di Berau.

Sebagian dia sisihkan untuk dikirim ke keluarganya. Sebagian dia tabung. Dan sisanya untuk biaya hidup di Berau.
Hampir dua tahun merantau, Petrus pun memilih pulang. Cuti satu bulan ke pihak perusahaan dia ajukan. Dan diizinkan oleh perusahaan. Namun dirinya mengaku tidak akan memutuskan kembali. Karena masih ingin melepas rindu dengan keluarga setelah dua tahun dia tinggalkan.
"Belum tahu (akan kembali atau tidak). Yang penting saya pulang dulu," ucapnya.

Selain Petrus, ada lagi calon penumpang yang menginap jauh lebih lama di Pelabuhan Semayang. Dia adalah Muhammad Syarif, 42 tahun bersama istrinya Yunita, 28 tahun. Dia sudah menginap di Pelabuhan Semayang sejak 5 Juli. Syarif dan istrinya berangkat dari Kotabangun, Kukar untuk mencari tiket pulang kampung ke Maumere. Namun saat itu, tiket diduga diborong oleh oknum calon. Sehingga harga tiket yang ditawarkan berkisar Rp 650 ribu hingga Rp 1 juta. Dia terpaksa menginap di Pelabuhan Semayang menunggu harga tiket kembali normal.

Syarif dan istri pun terpaksa berlebaran di pelabuhan. Tanpa seremoni apapun. Dia hanya menanti kapan bisa menikmati waktu bersama keluarganya di kampung.

Syarif merupakan perantau asal Kampung Lewoleba, salah satu kelurahan yang ada di kecamatan Nubatukan, kabupaten Lembata, NTT. Dia merantau berdua dengan istrinya pada 2015. Tujuannya bekerja di PT Tunas Prima Sejahtera, sebuah perusahaan kelapa sawit besar di Kukar atas ajakannya koleganya.

Pekerjaan sebagai nelayan di kampung dia tinggalkan. Karena saat itu penghasilan sebagai nelayan tidak bisa mencukupi keluarga. Terlebih lagi empat anaknya sudah memasuki usia sekolah. Sehingga Syarif memilih mengadu nasib dengan merantau.

Bekerja di perusahaan perkebunan sawit ternyata di luar ekspektasinya. Bayangan mendapat upah yang besar pun sirna. Tiga bulan pertama, memang penghasilan yang didapat Syarif lumayan besar, Rp 3 juta per bulan. Namun belakangan, gajinya terus menurun hingga Rp 1 juta setiap bulan.  "Kata perusahaan panen lagi turun. Jadinya gajinya terus turun," ucap Syarif dengan mimik serius.

Kondisi tersebut membuatnya untuk kembali ke kampung halamannya. Apalagi dua anaknya sedang bersiap untuk masuk ke SMA. Sehingga sangat penting bagi Syarif untuk pulang ke menumpang KM Bukit Siguntang ke Maumere. Setelah pulang, Syarif mengaku tidak akan kembali merantau dan akan menjadi nelayan lagi.

Lain lagi dengan Manyelius Hendito Hasan, 42 tahun. Dia merantau ke Kalimantan belum satu tahun dan ingin pulang ke Desa Egon Gahar, kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, NTT. Hasan tiba di Balikpapan dari Kutim pada 10 Juli. Berbekal uang saku Rp 500 ribu, dia ingin membeli tiket untuk pulang ke kampung halamannya.

Hasan sampai harus menghemat uangnya agar bisa pulang. Dia harus membatasi jatah makan setiap harinya satu kali. Bahkan untuk menikmati WC umum, tak dia lakukan karena keterbatasan dana yang dimilikinya.
"Saya belum mandi sejak tiba di sini," ungkap Hasan.

Dia baru bernapas lega setelah mendapat tiket pada 13 Juni 2016, dengan harga Rp 363.500. Saat tiba di Pelabuhan Semayang, dia sempat ditawari tiket menuju Maumere dengan harga Rp 900 ribu. Hasan memilih menginap di Pelabuhan sembari menanti harga tiket kembali pada harga normalnya.

Kedatangannya ke Balikpapan adalah untuk mendatangi adiknya  yang sedang sakit di Kutim. Adiknya adalah pegawai di perusahaan perkebunan di sana. Berangkatlah dia dari Maumere ke Balikpapan. Tepat 25 Januari 2016, Hasan tiba di Balikpapan dan langsung berangkat menuju Kutim.
Sembari merawat adiknya yang sakit yang menurut diagnosis dokter menderita sakit darah tinggi, dia ditawari bekerja di perusahaan tempat adiknya bekerja.

Sebagai tukang panen kelapa sawit. Karena kerap tidak memenuhi target panen harian, Hasan pun ditawari manajer personalia di sana untuk mengerjakan pekerjaan lain. Pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Seperti membersihkan mess tempat tinggal pegawai perkebunan di sana. Walaupun tidak besar, penghasilan dari pekerjaannya itu dia syukuri.

"Saya dapat Rp 800 ribu per bulan. Tapi tidak penuh saya, karena sering dipotong uang kasbon saya," akunya.
Hasan mengaku setelah pulang ke kampungnya, tidak memikirkan akan kembali lagi ke Kalimantan.
RIKIP AGUSTANI




BACA JUGA

Sabtu, 30 Juli 2016 11:00

Level Waduk Manggar Naik 2 Meter

KABAR baik bagi pelanggan PDAM Balikpapan. Hujan deras yang mengguyur Kota Balikpapan menjadi berkah…

Sabtu, 30 Juli 2016 10:55

Waswas di Fly Over

FLY OVER alias jalan layang pertama di Kota Samarinda akhirnya beroperasi. Peresmian operasi dilakukan…

Senin, 25 Juli 2016 10:40

Apresiasi Pegawai Berprestasi

INI kabar baik bagi pegawai atau staf yang memiliki inovasi dan kreativitas. Gubernur Kalimantan Timur…

Senin, 18 Juli 2016 10:57

Membedah Agenda Baru Perkotaan

KOTA Surabaya akan menjadi tuan rumah konferensi internasional. Perumahan dan Pembangunan Perkotaan…

Sabtu, 09 Juli 2016 19:40

Hati-hati Jebakan Batman

SEPERTI yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, Lebaran selalu menjadi momentum tepat bagi setiap produsen…

Sabtu, 09 Juli 2016 19:39

Rumah Nostalgia di Dahor

NUANSA vintage dirasakan ketika melihat rumah panggung di Jalan Dahor, Balikpapan. Rumah dinas karyawan…

Sabtu, 09 Juli 2016 19:38

Idulfitri, Disiapkan 1.672 Armada

SEBANYAK 1.672 armada angkutan umum untuk arus mudik lebaran di Kaltim telah dipersiapkan. Jumlah tersebut…

Sabtu, 09 Juli 2016 19:36

Gubernur Kritik Taman Samarendah, Ini Komentarnya

KEELOKAN atau kecantikan hingga fungsi dari taman kota bernama Taman Samarendah di Jalan Bhayangkara…

Sabtu, 09 Juli 2016 19:35

Di Balikpapan, Tinja Warga Dikelola

Di Asia, Indonesia berada di urutan terbawah dalam hal cakupan pelayanan air limbah. Kurang dari 2 persen…

Sabtu, 02 Juli 2016 19:43

BIC Pemersatu Islam

BALIKPAPAN Islamic Center (BIC) telah resmi digunakan. Namun belum sepenuhnya bisa digunakan oleh masyarakat.…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .