KALTIM WEEKLY | UTAMA | POLITIK | HUKUM | MASKULIN | LEADER | WAWANCARA | LAPORAN KHUSUS

UTAMA

Senin, 18 Juli 2016 10:56
Kue Lebaran pun dari Negeri Jiran

PROKAL.CO, TAK lengkap rasanya jika berkunjung ke satu daerah, tanpa membawa buah tangan untuk keluarga atau sahabat di kampung halaman. Umumnya, buah tangan berupa makanan khas atau produk-produk kerajinan khas dari daerah yang dikunjungi.

Kabupaten Berau juga punya buah tangan khas Bumi Batiwakkal – sebutan Kabupaten Berau. Seperti kerupuk ikan Talisayan, terasi Batu Putih, hingga produk-produk kerajinan tangan khas Dayak dan yang lainnya. Sayang, buah tangan khas Berau tersebut, masih “kalah pamor” dari buah tangan asal Negeri Jiran, Malaysia.

Ya, masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke Bumi Batiwakkal, terkesan lebih senang membeli produk-produk asal Malaysia sebagai buah tangan mereka.

Bahkan, di momen jelang arus mudik lebaran, masyarakat pendatang yang sudah bekerja di Bumi Batiwakkal, mulai berburu produk-produk Malaysia seperti, cokelat, makanan ringan hingga produk susu bubuk,  sebagai oleh-oleh mereka untuk sanak saudara di kampung halaman.

Produk-produk Malaysia sangat mudah ditemukan di beberapa toko di Kota Tanjung Redeb. Seorang pemilik toko di Kota Tanjung Redeb yang menjual produk-produk asal Malaysia, menyebutkan pintu masuk produk asal Malaysia ke Indonesia berada di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan.  

Pulau Sebatik merupakan pulau perbatasan antara Malaysia-Indonesia. Daratan Pulau Sebatik juga terbagi menjadi daerah kekuasaan Negara Malaysia dan Indonesia. Pulau Sebatik juga menjadi salah satu pintu gerbang Indonesia bagi warga negara Malaysia, maupun barang-barang dagangannya.

Untuk menyeberang dari Pulau Sebatik ke Tawau Malaysia, hanya dibutuhkan waktu sekitar dua jam menggunakan speedboat. Sehingga, sangat memungkinkan jika alur perdagangan antarnegara sangat berkembang di Pulau Sebatik, sebelum akhirnya tersebar di berbagai daerah di Kaltara dan Kaltim, termasuk Kabupaten Berau.

Terlebih, ada aturan niaga di perbatasan tersebut yang memperbolehkan Warga Negara Indonesia (WNI) berbelanja ke Tawau. Syaratnya, aktivitas belanja tidak boleh melebih 600 Ringgit Malaysia (RM) atau sekitar Rp 2,1 juta setiap harinya. Dari kedekatan geografis dan aturan niaga tersebut, produk-produk Malaysia hingga kini masih mudah ditemukan di Indonesia, khususnya wilayah Kaltim-Kaltara. Kesempatan itu juga yang dijadikan pasar baru oleh WNI di perbatasan.

Pemilik toko yang namanya sengaja tidak disebutkan itu, mengakui jika produk Malaysia didatangkannya dari seorang pedagang besar di Sungai Nyamuk, Kabupaten Nunukan. Di Sungai Nyamuk, ada pengepul atau penadah yang menjual produk-produk Malaysia tersebut dalam partai besar, untuk dijual kembali di pasar Indonesia.

“Karena kalau sudah masuk dari Tawau ke Nunukan, proses transaksi sudah menggunakan rupiah, tidak ringgit lagi. Sehingga membeli dalam partai besar di Sungai Nyamuk diperbolehkan,” ujar pria yang telah lama berjualan produk-produk Malaysia tersebut.

Pedagang ini tidak peduli, apakah penadah produk Malaysia di Sungai Nyamuk itu memiliki izin untuk menjual produk dari negara luar atau tidak. Yang jelas, barang-barang pesanannya tidak pernah menemui kendala hingga sampai ke tangannya. “Saya juga sekarang hanya tinggal memesan saja dari Sungai Nyamuk. Tapi sejak lima bulan terakhir belum ada barang yang masuk dalam jumlah besar. Saya tidak tahu ada permasalahan apa,” akunya.

Pria paro baya ini tetap bertahan menjual produk-produk Malaysia, karena keuntungan yang cukup besar bisa diraupnya. Sebab, penjualan produk Malaysia bisa lebih cepat dibanding penjualan produk-produk sejenisnya buatan Indonesia.
“Alhamdulillah sudah bisa naik haji. Saya bisa menyekolahkan anak-anak, membeli rumah dan mobil, hasil dari keuntungan dari berdagang bisnis saya ini,” akunya.

Manisnya, olahan makanan ringan tersebut, mampu membuat derajat keluarganya naik. Terlepas produk-produk tersebut merugikan negara karena terlepas dari sistem perpajakan atau tidak. Pada dasarnya, ada pihak yang diuntungkan dari proses ekonomi yang sebenarnya secara perlahan menggusur pasar produk-produk dalam negeri.

Halaman:

BACA JUGA

Sabtu, 30 Juli 2016 11:33

Jagoan Peliharaan Tuan Tambang

Aksi preman di Bumi Etam semakin nekat dan sadis. Jagoan peliharaan perusahaan tambang siap menjadi…

Sabtu, 30 Juli 2016 11:30

Panen BBM dari Limbah Plastik

Pameran Teknologi Tepat Guna (TTG) yang diselenggarakan di Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC/Dome)…

Senin, 25 Juli 2016 10:57

Fulus Hibah Cap Moncong Putih

Dua perkara hibah yang bergulir ke peradilan Tipikor Samarinda mengungkap peran mantan legislator Benua…

Senin, 25 Juli 2016 10:56

Mati Konyol Penumbal Badan

Lintong Tampubolon disebut-sebut sebagai saksi kunci dari perkara rasuah hibah yang menyeret nama Sudarno.…

Senin, 18 Juli 2016 11:10

ASET-ASET TERPELESET

Satu per satu aset Pemkot Balikpapan dikuasai pihak lain. Termasuk fasilitas umum bongkar muat barang…

Sabtu, 02 Juli 2016 19:54

Mengadang Dosen Abal-Abal

Skandal ijazah palsu salah seorang dosen di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin menggema…

Sabtu, 02 Juli 2016 19:52

Kasus Rifqi Kasus Berbahaya

PARA rektor dari perguruan tinggi negeri maupun swasta sepakat untuk memperketat seleksi mahasiswa baru,…

Sabtu, 02 Juli 2016 19:51

Balada Tukang Ledeng

Bagaimanapun, jabatan baru direksi PDAM Balikpapan diharapkan sebagai air pendorong keran ledeng semakin…

Sabtu, 02 Juli 2016 19:48

Solusi Mencari Air Baku di Balikpapan, Apa pun Selain Hujan

Meskipun air laut setiap waktu merayap-rayap di bawah sebagian rumah penduduk, sumber air laut yang…

Senin, 27 Juni 2016 10:09

Kerja Kerja Pengawas Tambang

Hutan yang teduh telah menjadi tambang-tambang yang luas. Berubahlah sebutan Kaltim tercinta menjadi…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .